Download lengkap pdf Pengaruh kolkisin klik disini

PENGARUH KOLKISIN TERHADAP KROMOSOM UJUNG AKAR BAWANG MERAH


PENDAHULUAN

Latar Belakang

Bawang merah (Allium ascalonicum  L.) merupakan sayuran umbi yang multiguna, dapat digunakan sebagai bumbu masakan, sayuran, penyedap masakan, di samping sebagai obat tradisional karena efek antiseptik senyawa anilin dan alisin yang dikandungnya (Rukmana, 1994). Komoditas sayuran ini termasuk ke dalam kelompok rempah tidak bersubstitusi yang berfungsi sebagai bumbu penyedap makanan serta bahan obat tradisional (Deptan, 2005). Bahan aktif minyak atsiri bawang merah terdiri dari sikloaliin, metilaliin, kaemferol, kuersetin, dan floroglusin (Muhlizah dan Hening-S, 2000).

Rata-rata produksi bawang merah nasional saat ini masih rendah. Rendahnya daya produksi bawang merah antara lain disebabkan karena sedikitnya kultivar-kultivar unggul dan proses pengolahan pertanian yang kurang baik (Rukmana, 1994; Wibowo, 1991). Kultivar-kultivar unggul dapat diperoleh melalui pemuliaan tanaman, diantaranya dengan pemuliaan konvensional, induksi mutasi dan prosedur transgenik. Pemuliaan dengan mutasi dapat dilakukan dengan menggunakan kolkisin pada jaringan meristem (Suryo, 1995). Penggunaan kolkisin dengan konsentrasi yang tepat dapat meningkatkan jumlah kromosom, sehingga tanaman bersifat poliploid. Tanaman yang bersifat poliploid umumnya memiliki ukuran morfologi lebih besar dibandingkan tanaman diploid (Suminah, et al, 2002). Dengan demikian kualitas tanaman yang diberi perlakuan diharapkan lebih baik dibandingkan tanaman diploid.

Setiap jenis tanaman memiliki respon yang berbeda-beda terhadap pemberian kolkisin (Suryo, 1995). Umumnya kolkisin akan bekerja efektif pada konsentrasi 0,01-1% untuk jangka waktu 6-72 jam (Suminah, et al., 2005). Oleh karena itu, penting rasanya untuk mengetahui pengaruh berbagai konsentrasi kolkisin terhadap tanaman, khususnya bawang merah dan bawang bombay.

Tujuan

Tujuan dari dilaksanakannya penelitian ini adalah:

1.      Mengetahui pengaruh pemberian berbagai konsentrasi kolkisisn terhadap jumlah kromosom tanaman bawang merah

2.      Mengetahui pengaruh pemberian berbagai konsentrasi kolkisisn terhadap ukuran sel and inti sel tanaman bawang merah

 

 

TINJAUAN PUSTAKA

 

Bawang Merah (Allium ascalonicum L)

Bawang merah (Allium ascalonicum L) merupakan salah satu anggota dari familia Liliaceae. Tanaman ini merupakan tanaman semusim dan memiliki umbi yang berlapis. Tanaman mempunyai akar serabut, dengan daun berbentuk silinder berongga. Umbi terbentuk dari pangkal daun yang bersatu dan membentuk batang yang berubah bentuk dan fungsi, membesar dan membentuk umbi berlapis. Umbi bawang merah terbentuk dari lapisan-lapisan daun yang membesar dan bersatu. Umbi bawang merah bukan merupakan umbi sejati seperti kentang atau talas.

Bawang merah (Allium ascalonicum  L.) merupakan sayuran umbi yang multiguna, dapat digunakan sebagai bumbu masakan, sayuran, penyedap masakan, di samping sebagai obat tradisional karena efek antiseptik senyawa anilin dan alisin yang dikandungnya (Rukmana, 1994). Komoditas sayuran ini termasuk ke dalam kelompok rempah tidak bersubstitusi yang berfungsi sebagai bumbu penyedap makanan serta bahan obat tradisional (Deptan, 2005). Bahan aktif minyak atsiri bawang merah terdiri dari sikloaliin, metilaliin, kaemferol, kuersetin, dan floroglusin (Muhlizah dan Hening-S, 2000).

Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)

Sub Kelas: Liliidae

Ordo: Liliales

Famili: Liliaceae (suku bawang-bawangan)

Genus: Allium

Spesies: Allium cepa var. aggregatum L.

Kromosom Bawang Merah

Kromosom antar tanaman berbeda antara yang satu dan yang lainnya. Baik dari bentuk, jumlah, dan panjangnya. Allium cepa memiliki jumlah kromosom 2n = 16 (Sastrosumarjo, 2006). Hal ini sangat membantu dalam  mempelajari analisis mitosis pada tanaman, karena jumlahnya yang tidak terlalu banyak. Selain itu, kromosom allium cepa sering digunakan untuk mempelajari analisis mitosis juga karena ia memiliki ukuran kromosom yang besar dan cukup mudah untuk dibuat preparatnya (Stack, 1979).

 

Kolkisin Menginduksi Poliploidi

Kolkisin (C22H25O6N) merupakan suatu alkaloid berwarna putih yang diperoleh dari umbi tanaman  Colchichum autumnale  L. (Familia Liliaceae) (Suminah, et al., 2002), sedangkan menurut Haryanti, et al. (2009) Kolkisin (C22H25O6N) merupakan alkaloid yang mempengaruhi penyusunan mikrotubula, sehingga salah satu efeknya adalah menyebabkan penggandaan jumlah kromosom tanaman (terbentuk tanaman poliploid).

Kolkisin sering digunakan untuk menginduksi tanaman poliploidi. Menurut Suryo (1995), larutan kolkisin pada konsentrasi kritis tertentu akan menghalangi penyusunan mikrotubula dari benang-benang spindle yang mengakibatkan ketidakteraturan pada mitosis. Suminah (2005) juga menjelaskan bahwa kolkisin ini dapat menghalangi terbentuknya benang-benang spindel pada pembelahan sel sehingga menyebabkan terbentuknya individu poliploidi. Mansyurdin, et al. (2002) memaparkan bahwa semakin tingi konsentrasi kolkisin makin tinggi persentase sel yang tetraploid, tetapi persentase kematian kecambah makin tinggi pula.

 

 

BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Pratikum ini dilaksanakan dalam dua tahap, yaitu tahap 1 : pemberian kolkisin pada tanaman, dan tahap 2: pengamatan kromosom ujung akar tanaman. Pemberian kolkisin pada tanaman dilaksanakan tiga hari sebelum pengamatan kromosom. pengamatan kromosom ujung akar tanaman bawang merah dilaksanakan pada hari Selasa, 7 Desember 2010 di Lab Microtechnique Departemen AGH, FAPERTA, IPB.

 

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam pratikum ini adalah:

  • Akar bawang merah
  • Akar bawang bombay
  • Kolkisin

Alat – alat yang digunakan dalam pratikum ini adalah:

  • Mikroskop
  • Silet
  • Cawan petri
  • Pinset
  • Gelas objek
  • Gelas penutup
  • Bunsen
  • Pensil dengan ujung berpenghapus
  • Tisu

 

Metode Pelaksanaan

  • Mengecambahkan bawang merah pada kapas basah
  • Meneteskan larutan kolkisin 0,0%; 0,01%; 0,1%; dan 0,5% selama tiga hari
  • Mengamati jumlah kromosom sesuai dengan prosedur analisis mitosis
  • Bandingkan jumlah kromosom setiap perlakuan

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengaruh Kolkisin terhadap Jumlah Kromosom Tanaman Bawang Merah

Hasil pengamatan mikroskopis terhadap jumlah kromosom sel – sel ujung akar bawang merah dengan berbagai dosis kolkisin dapat dilihat pada gambar 19 dan 20.

Hasil pengamatan pada gambar 19 dan 20 menunjukkan bahwa penggunaan kolkisin konsentrasi 0.05%, 0.1%, dan 0.2% dapat meningkatkan jumlah kromosom dan menghasilkan berbagai tingkat ploidi pada kromosom ujung akar bawang merah. Hal yang sama telah dilaporkan oleh Suminah, et al. (2002) yang melaporkan bahwa pemberian kolkisin 1% menyebabkan variasi bentuk, ukuran, dan jumlah pada kromosom ujung akar bawang merah.

Perubahan jumlah kromosom ini disebabkan oleh pemberian kolkisin dengan konsentrasi kritis. Pemberian kolkisin pada konsentrasi kritis tersebut dapat mencegah terbentuknya benang – benang mikrotubuli dari gelendong inti (benang – benang spindel) sehingga perpindahan tahap metafase ke anafase tidak berlangsung dan menyebabkan penggandaan kromosom tanpa terjadi penggandaan dinding sel. Jika konsentrasi tersebut terus dipertahankan, makan penggandaan tersebut dapat terus terjadi. Hal inilah yang pada akhirnya menyebabkan jumlah kromosom dalam inti menjadi lebih banyak dibandingkan sebelumnya dan menghasil variasi tingkat ploidi pada kromosom ujung akar bawang merah. Suryo (2005) menjelaskan bahwa apabila konsentrasi kritis kolkisin terus dibiarkan maka akan terus terjadi pertambahan genom yang penambahannya mengikuti deret ukur.

 

(a)                                           (b)                                             (c)

Gambar 19. Hasil Pengamatan Mikroskopis Tanpa Pra Perlakuan Sederhana terhadap Kromosom Ujung Akar Bawang Merah pada Dosis (a) 0.05%, (b) 0.1%, dan (c) 0.2%

 

(a)                                           (b)                                             (c)

Gambar 20. Hasil Pengamatan Mikroskopis dengan Pra Perlakuan Sederhana terhadap Kromosom Ujung Akar Bawang Merah pada Dosis (a) 0.05%, (b) 0.1%, dan (c) 0.2%

Gambar 19 dan 20 juga memperlihatkan bahwa peningkatan jumlah kromosom tidak terjadi pada semua sel ujung akar bawang merah, khususnya pada dosis 0.05%. Daryono (1998) menjelaskan bahwa pemberian kolisin pada konsentrasi 0.01% dengan lama 3, 6, dan 12 jam belum dapat menginduksi pembentukan sel – sel tetraploid pada tanaman melon. Hal ini dapat terjadi pemberian kolkisin pada konsentrasi yang rendah belum dapat menghambat pembentukkan beang – benang gelendong , sehingga proses pemisahan kromosom pada stadium anafase tetap berlangsung dan pada akhirnya, sel tersebut akan tetap diploid. Pemberian kolkisin dengan konsentrasi yang tepat akan dapat mencegaah terpbentuknya benang – benang gelendong yang mengakibatkan perambahan jumlah kromosom (Suryo, 2005).

 

Pengaruh Kolkisin terhadap Ukuran Sel Tanaman Bawang Merah

Selain mengamati jumlah kromosom ujung akar bawang merah, pada pratikum ini juga dilakukan pengamatan terhadap ukuran sel ujung akar bawang merah. Pengamatannya sendiri hanya membandingkan antar gambar sel ujung akar bawang merah, tanpa dilakukan pengukuran terhadap sel tersebut.

Gambar 21 Kromosom Ujung Akar Bawang Merah dengan Kolkisin 0.1%

Gambar 21 memperlihatkan bahwa sel yang sudah mengalami penggandaan kromosom memilki ukuran sel yang lebih besar dibandingkan sel yang belum mengalami penggandaan kromosom. Daryono (1998) menjelaskan bahwa pemberian kolkisin dapat meningkatkan luas permukaan sel melon 1.7 – 3.4 kali sel semula. Pemberian kolkisin dapat meningkatkan jumlah kromosom pada sel. Peningkatan jumlah kromosom ini dapat menekan dinding sel ke arah luar sehingga semakin lama akan membuat sel semakin besar.

Gambar 22 Kromosom Ujung Akar Bawang Merah yang Pecah

Apabila peningkatan jumlah kromosom terus terjadi, maka dapat menyebabkan dinding sel pecah karena tidak mampu menampung jumlah kromosom yang terlalu banyak. Pecahnya dinding sel akibat peningkatan jumlah kromosom dapat dilihat pada gambar 23.

 

Gambar 23 Pembesaran pada Akar Bawang Merah akibat Pemberian Kolkisin

Peningkatan ukuran sel akibat pemberian kolkisin juga dapat dilihat dari terjadi pembesaran pada ukuran akar tanaman bawang. Pembesaran pada akar bawang merah akibat pemberian kolkisin dapat dilihat pada gambar ….. Haryanti (2009) menjelaskan bahwa pemberian kolkisin menyebabkan ukuran sel tanaman kacang hijau lebih besar namun menjadi lebih pendek.

 

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Pemberian kolkisin pada ujung akar bawang merah dapat mempengaruhi jumlah kromosom ujung akar bawang merah. Pemberian kolkisin tersebut meningkatkan jumlah dan menyebabkan variasi ploidi kromosom ujung akar bawang merah

Pemberian kolkisin mempengaruhi ukuran sel ujung akar tanaman bawang merah. Pemberian kolkisin tersebut meningkatkan ukuran sel ujung akar bawang merah dan membuat akar bawang merah lebih besar namun lebih pendek.

 

Saran

Perlu dilakukan penanaman bawang merah yang sudah diberi perlakuan kolkisin di lapang, agar dapat melihat pengaruh pemberian kolkisin tersebut terhadap pertumbuhan tanaman bawang merah.

Perlu dilakukan percobaan mengenai teknik pemberian kolkisin dan lama waktu pemberiannya terhadap bawang merah, sehingga didapatkan hasil yang optimal dalam penggunaan kolkisin pada tanaman bawang merah.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

BPPP Deptan. 2005. Prospek dan rah Pengembangan Agrobisnis Bawamg Merah. Jakarta. 25 hal.

Daryono B. S. 1998. Pengaruh kolkisin terhadap pembentukan sel – sel melon tetraploid. Buletin Agro Industri. (5) : 2 – 11.

Mansyurdin, Hamru, dan D. Murni. 2002. Induksi tetraploid pada tanaman cabai merah keriting dan cabai rawit dengan kolkisin. Stigma. 12 (3) : 297 – 300Sastrosumarjo, S., Yudiwanti, S. I. Aisyah, S. Sujiprihati, M. Syukur, R. Yunianti. 2006. Panduan laboratorium, hal. 261. Dalam S. Sastrosumarjo (Ed.) Sitogenetika Tanaman. IPB Press. Bogor

Sri, H., R. B. Hastuti, N. Setiari, dan A. Banowo. 2009. Pengaruh kolkisin terhadap pertumbuhan, ukuran sel metafase dan kandungan protein biji tanaman kacang hijau (Vigna radiata (L) Wilczek). Jurnal Penelitian Sains & Teknologi. 10 (2) : 112 – 120.

Sastrosumarjo, S. 2006. Panduan laboratorium, hal. 38 – 63. Dalam S. Sastrosumarjo (Ed.) Sitogenetika Tanaman. IPB Press. Bogor.

Stack S. M., and D. E. Comings. 1979. The cromosomes and DNA of Allium cepa. CHROMOSOMA. 70:161 – 181

Suminah, Sutarno, A. D. Setyawan. 2002. Induksi poliploidi bawang merah (Allium ascalonicum L.) dengan pemberian kolkisin. BIODIVERSITAS. 3 (1) : 174 – 180.

Suprihati, D., Elimasni, E. Sabri. 2007. Identifikasi karyotipe terung belanda (Solanum betaceum Cav.) kultivar Brastagi Sumatera Utara. Jurnal Biologi Sumatera Utara. 2(1): 7 – 11.

Suryo, H. 2007. Sitogenetika. Gajah Mada University Press. Yogyakarta. 446 hal.