PENGKAJIAN SISTEM USAHATANI TERPADU PADI-KEDELAI/SAYURAN-TERNAK DI LAHAN PASANG SURUT

Diposting oleh Arya Widura Ritonga


Susilawati1, M. Sabran1, Rahmadi Ramli1, Deddy Djauhari1, Rukayah1, dan Koesrini2

1Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Tengah, Jl. G. Obos Km 5 Po Box 122 Palangkaraya 73001

2Balai Penelitian Tanaman Lahan Rawa Banjarbaru, Jl.Kebun Karet Lok Tabat Kotak Pos 13 Banjarbaru 70712


ABSTRAK

Dalam rangka mendukung program pembangunan pertanian di Kabupaten Kapuas yaitu program pengembangan kawasan pertanian terpadu melalui pemberdayaan lahan dan petani serta menumbuhkan pasar rakyat untuk meningkatkan pendapatan petani, maka perlu dilakukan suatu pengkajian yang dapat membantu petani dalam mengelola lahannya sehingga sesuai dengan potensi lahan yang ada dan sumberdaya yang tersedia. Pengkajian usahatani terpadu padi-kedelai/sayuran-ternak di lahan pasang surut tipe luapan B-C merupakan kegiatan lanjutan, yang dilaksanakan di Desa Bungai Jaya, Kecamatan Basarang Kabupaten Kapuas, dengan luas areal 13 ha dan melibatkan 20 orang petani koperator. Tujuan pengkajian adalah (1) melakukan karakterisasi wilayah, petani dan sistem usahatani, (2) melakukan analisis terhadap kinerja teknologi usahatani, (3) melakukan analisis usahatani, (4) mempelajari struktur pendapatan usahatani terpadu, dan (5) melakukan analisis adopsi teknologi introduksi. Pendekatan pengkajian dilakukan secara on-farm research, dengan metode perbandingan berpasangan (pairly

comparison) yaitu membandingkan model usahatani introduksi dengan model usahatani ditingkat petani. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa sesuai dengan karakteristik lahan dan petaninya, lahan pasang surut tipe B-C sebaiknya diusahakan secara terpadu dengan sistem surjan dengan pola tanam padi-palawija pada MH dan kedelaisayuran pada MK serta ternak di pekarangan. Secara fisik input teknologi yang diintroduksikan, dapat meningkatkan kinerja usahatani dan memberikan tambahan pendapatan sebesar Rp 9.873.500 pada MK dan Rp 8.887.000 pada MH, lebih besar dari pendapatan petani nonkoperator. Rata-rata R/C semua komoditas yang diusahakan > 2,5, sehingga teknologi ini layak dikembangkan.

 

PENDAHULUAN

Luas lahan pasang surut di Kalimantan Tengah adalah 5,5 juta ha, di mana 1.696.071 ha terdapat di Kabupaten Kapuas dan sekitar 623.000 ha di antaranya berpotensi untuk pengembangan tanaman pangan, sayuran, buahbuahan dan ternak. Berdasarkan peta zone agroekologi (ZAE) diketahui bahwa tipe lahan pasang surut yang paling dominan di Kabupaten Kapuas adalah lahan sulfat masam, baik sulfat masam potensial maupun sulfat masam aktual. Sesuai dengan arahan penggunaan lahan sulfat masam, maka lahan sulfat masam yang memiliki tipe luapan A sebaiknya ditata dan diusahakan sebagai sawah. Tipe luapan B dan C ditata dengan sistem surjan, yaitu sistem penataan lahan dengan membagi-bagi lahan menjadi bagian-bagian yang disebut surjan dan tabukan. Surjan yaitu bagian lahan yang tinggi, dibuat dengan mengangkat tanah bagian atas dari areal di sekitarnya dan ditumpuk menjadi lebih tinggi, lebar dan panjang. Tabukan yaitu lahan bagian bawah, di mana tanah bagian atasnya telah diangkat ke atas untuk dijadikan guludan atau surjan, sehingga tanah menjadi lebih rendah. Sesuai arahan penggunaan lahan maka pada lahan tabukan sebaiknya diusahakan untuk tanaman pangan, dan pada surjan sebaiknya ditanam tanaman sayuran, hortikultura serta palawija. Jumlah surjan dalam satu hektar berkisar antara enam sampai sembilan surjan (Abdurrahman et al., 1998). Beberapa keuntungan sistem surjan antara lain (1) stabilitas produksi lebih mantap, terutama untuk tanaman padi sawah di tabukan; (2) intensitas tanam lebih tinggi; dan (3) diversifikasi tanaman sekaligus dapat terlaksana (SWAMP-ll, 1993).

Dalam mendukung program pembangunan pertanian di Kabupaten Kapuas yaitu program pengembangan kawasan pertanian terpadu melalui pemberdayaan lahan dan petani serta menumbuhkan pasar rakyat untuk meningkatkan pendapatan petani, maka dilakukan suatu pengkajian yang dapat membantu petani dalam berusahatani di lahan pasang surut, sehingga pemanfaatan lahan lebih optimal dan menguntungkan. Kegiatan yang dilaksanakan adalah kegiatan usahatani terpadu. Keterpaduan komoditas dalam upaya diversifikasi usahatani dapat meningkatkan produktivitas lahan, tenaga kerja, meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani (Alihamsyah et al., 1997).

Sebagai dasar pertimbangan dari kegiatan ini adalah tersedianya teknologi hasil pengkajian tahun sebelumnya. Kegiatan tahun pertama diawali dengan penyusunan paket teknologi usahatani spesifik di lahan pasang surut. Kegiatan yang dilakukan meliputi uji adaptasi varietas padi dan kedelai, pengujian dosis pupuk dan pemberian bahan amelioran. Hasil yang diperoleh pada tahun pertama ini adalah terpilihnya Varietas Wilis sebagai varietas kedelai yang adaptif dan disenangi petani, dengan produksi sebesar 1,65 t/ha. Tanaman padi terpilih adalah Varietas IR-66 dengan produksi sebanyak 3,8 t/ha. Dosis pupuk terpilih adalah 150 kg/ha urea, 100 kg/ha SP-36 dan 100 kg/ha KCl untuk tanaman padi, dan 50 kg/ha urea, 100 kg/ha SP36 dan 50 kg/ha KCl untuk tanaman kedelai. Bahan amelioran terpilih adalah kapur dolomit dengan dosis 1 t/ha.

Hasil ini selanjutnya dirakit menjadi paket teknologi dan dilakukan lagi penerapan dan pengembangan paket teknologi pada tahun kedua. Selain penerapan paket teknologi, kegiatan tahun kedua ini lebih ditekankan kepada pemanfaatan lahan secara optimal melalui sistem penataan lahan dan pengaturan pola tanam yang lebih menguntungkan dalam siklus setahun.

Beriringan dengan dilepasnya varietas padi dan kedelai tahan tanah masam, yang dihasilkan oleh Balai Penelitian Tanaman Lahan Rawa (Balittra) maka pada tahun ini kembali dilakukan uji adaptasi varietas padi yaitu Margasari dan Martapura dan varietas kedelai Lawit dan Menyapa, melalui kegiatan super imposed. Untuk memberikan pilihan komoditas ekonomis lainnya, dilakukan juga penanaman sayuran pada lahan surjan sebagai unit percontohan.

Kegiatan tahun kedua ini cukup mendapat respons dan hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa penerapan paket teknologi usahatani padi-kedelai di lahan pasang surut dapat meningkatkan pendapatan petani sebesar Rp 4.890.000,00 dengan R/C ratio 2,27. Hasil kegiatan super imposed menunjukkan padi Varietas Margasari merupakan varietas terpilih. Produksi yang diperoleh adalah 3,6 t/ha lebih rendah daripada Varietas IR 66, namun lebih disukai karena memiliki kemiripan dengan varietas lokal Siam unus yang sangat populer di Kalimantan dan memiliki nilai jual yang tinggi. Varietas kedelai yang dipilih petani adalah Varietas Lawit, dengan produksi 1,7 t/ha. Usahatani sayuran pada tahun kedua ini masih digunakan sebagai konsumsi rumah tangga, karena areal yang digunakan sangat terbatas.

 

 

Tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan ini adalah (1) Untuk mengetahui karakterisasi wilayah, petani dan usahatani setempat, mengetahui kinerja usahatani, melakukan analisis usahatani terpadu yang dikembangkan petani koperator dan nonkoperator; (2) Mengetahui struktur pendapatan usahatani; dan (3) Melakukan analisis terhadap adopsi teknologi yang diintroduksikan di lahan pasang surut.

 

Analisis Kuantitatif dan Hitungan

Luas lahan                                           : 13 Ha

Petani yang terlibat                        :20 petani koperator dan 7 petani non koperator

Lahan                                                    : Milik petani

Input produksi                                  : Lahan, benih, petani, alat pertanian, pestisida, air, pupuk

Input dari luar                                     : pupuk anorganik, benih, pestisida, kapur pertanian, cuaca,

perpu, dll

Input dari dalam                                 : Pupuk organik, rumput untuk pakan ternak, petani, air,

lahan, pakan ternak

 

Analisis Usaha Tani dan Perbandingan keuntungan

Struktur pendapatan usahatani terpadu kedelai-sayuran yang dikembangkan petani koperator pada MK dengan rata-rata luas garapan 0,65 ha, menghasilkan pendapatan dari usahatani kedelai sebesar 70,8 persen dan 29,3 persen dari cabang usaha sayuran. Nilai yang diperoleh pada MK sebesar Rp 4.453.375,-. Dibandingkan dengan usahatani pada MH, total pendapatan tidak terlalu jauh berbeda (Rp 4.177.875), namun pada MH cabang usahatani yang dilakukan dan sumber pendapatan rumah tangga petani lebih beragam, yaitu dari usahatani padi 70,6 persen dari jagung, kedelai dan sayuran masing-masing 9,8 persen. Berbeda dengan struktur pendapatan petani nonkoperator, usaha-tani yang intensif hanya dilakukan pada MH dengan rata-rata luas garapan 0,5 ha (lebih sempit dibanding petani koperator)

Tabel Analisis Struktur Biaya, Pendapatan dan Efisiensi Usahatani Terpadu Kedelai-Sayuran dengan Sistem Surjan, Kabupaten Kapuas, MK 2003

Komponen Pola Introduksi Pola Petani
Kedelai Sayuran Ubi Kayu
Benih (Kg/ha) 6,5 13,7 20,7
Pupuk (Kg/ha) 40,8 32 24,4
Urea 4,1 2,1 1,6
SP-36 10,9 2,8 2,1
KCl 5,5 5,7 -
Pupuk kandang 0 7,1 -
Rhizoplus 1,2 - -
Kapur 19,1 14,3 20,7
Obat-obatan (Kg, l /ha) 7,1 19,9 2,1
Herbisida 0 2,7 -
Furadan 1,6 2,9 -
Lainnya 5,5 14,3 2,1
Tenaga kerja (HOK) 45,9 36,4 52,8
Pengelolaan tanah 17,2 10,7 26,7
Tanam 12,3 10,7 13,7
Pemeliharaan 4,1 4,3 3,1
Panen 12,3 10,7 9,3
Total biaya produksi (Rp/ha) 1.834.500 3.504.000 2.412.000
Penerimaan bersih (Rp/ha) 3.400.000 11.812.500 6.000.000
Keuntungan (Rp/ha) 1.565.000 8.308.500 3.588.000
R/C Ratio 1,85 2,5
MBCR 3,15 -
Pendapatan per HOK (Rp) 85,046   57.194,5

Tabel Analisis Struktur Biaya, Pendapatan dan Efisiensi Usahatani Terpadu Padi Palawija dengan Sistem Surjan, Kabupaten Kapuas, MH 2003

Komponen Pola Introduksi Pola Petani
Padi Jagung Padi Jagung
Benih (kg,/ha) 6,2 33,6 6,8 39,6
Pupuk (kg/ha) 37,5 23,5 21,4 8,7
a Urea 11,6 10,1 4,3 3,7
b. SP-36 15,5 6,7 5,7 2,5
c. KCl 10,3 6,7 11,4 2,5
Obat-obatan (kg, lt /ha) 11,5 7,6 14,6 23,5
a. Herbisida 4,8 3,2 10,7 -
b. Furadan 3G 1,5 1,0 1,1 1,0
c. Lainnya 5,2 3,4 2,8 22,5
Tenaga kerja (HOK) 44,7 35,2 57,2 48,2
a. Pengolahan tanah 16,2 15,1 25,6 22,3
b. Semai 1,5 - 1,7 -
c. Tanam 11,5 2,5 12,8 11,1
d. Pemeliharaan 3,9 2,5 4,3 3,7
e. Panen 11,6 15,1 12,8 11,1
Total biaya produksi (Rp /ha) 1.939.000 2.974.000 1.758.000 2.020.000
Penerimaan bersih (Rp /ha) 5.850.000 7.950.000 4.050.000 6.300.000
Keuntungan (Rp/ha) 3.911.000 4.976.000 2.292.000 4.280.000
R/C Ratio 3,02 2,67 2,30 3,12
MBCR 3,35 -
Pendapatan per HOK (Rp) 95.58     64.782

 

Tabel Dampak Teknologi terhadap Kinerja Usahaternak Sapi Bali Pada Kegiatan Usahatani Terpadu dengan Sistem

Surjan di Lahan Pasang Surut (Ekor/siklus produksi), Kabupaten Kapuas, 2003 (ekor/siklus produksi)

Uraian Pola Introduksi Pola Petani
1. Pakan hijauan (kg) 3.600 3.600
2. Dedak padi (kg) 120 -
3. Bioplus (dosis) 1 -
4. Obat-obatan (dosis) 2 -
5. Penerimaan
a. Penambahan Bobot Badan (kg) 48 11
b. Pupuk kandang (kg) 1.200 1.200
c. Keuntungan dari Bobot Badan (Rp) 816.000 294.000

 

Usahatani padi memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pendapatan rumah tangga petani nonkoperator yaitu 88 persen, dan lebih besar dari pada petani koperator yang hanya 70,6 persen. Keadaan ini terjadi karena petani di wilayah ini sangat tergantung dari usahatani padi setiap tahunnya. Namun nilai pendapatan yang diperoleh lebih kecil. Selain akibat luas garapan yang sempit, petani nonkoperator juga sangat tergantung dengan varietas lokal dan minimnya penggunaan sarana produksi yang lain. Untuk ternak rata-rata kepemilikannya sama antara petani koperator dan petani nonkoperator yaitu dua ekor. Pendapatan yang dihasilkan petani koperator yang mengikuti menerapan paket teknologi yang dianjurkan selama satu siklus pemeliharaan empat bulan sebesar Rp 1.632.000. Pendapatan tersebut lebih besar dari pendapatan petani nonkoperator yang hanya menghasilkan Rp 588.000

 

Analisis keberlanjutan secara kuantitatif

Energi

Pemanfaatan energi pada konsep pertanian terpadu yang telah dijelaskan di atas lebih efektif dibandingkan dengan sistem monokultur. Hal ini dikarenakan jumlah energy yang dapat diserap pada areal yang sama dalam luasan dan waktu yang sama lebih besar pada konsep pertanian terpadu dibandingkan dengan sistem pertanian monokultur. Jumlah yang lebih besar ini dikarenakan penanaman pada sistem pertanian terpadu berlangsung sepanjang tahun dengan memanfaatkan seluruh luasan area yang dimiliki. Selain itu, juga dikarenakan energi kimia yang awalnya berasal dari radiasi matahari semakin efektif karena pada pertanian terpadu penanamannya memaksimalkan area yang ada.

Biomassa

Biomassa yang labih besar dihasilkan dari sistem pertanian terpadu ini dibandingkan dengan sistem monokultur. Hal ini dikarenakan terjadinya perubahan perubahan biomass lebih banyak terjadi dalam sistem ini menjadi lebih efektif dikarenakan hampir semua biomassa termanfaatkan.

Air

Pemanfaatan air menjadi lebih efektif pada sistem ini karena pemanfaatan air saat musim hujan menjadi lebih efektif dan keberadaan tanaman di lahan akan dpat menjaga atau mengikat ketika ada terdapat air yang dating

Oksigen

Kadar oksigen akan menjadi lebih tersedia karena keberadaan tanaman sebagai penghasik oksigen terjadi terus menerus sepanjang tahun.

Karbondioksida

Karbondioksida menjadi lebih efektif keberadaannya di lingkungan karena digunakan oleh tanaman untuk berfotosintesis sepanjang tahun.

Hara makro

Ketersedian unsur N di lahan akan tersedia karena terdapatnya tanaman kedelai yang akar tanaman tersebut mempunyai kemampuan untuk mengikat nitrogen dari udara. sedangkan unsur P dan K akan berkurang sehingga perlu dilakukan penambahan pupuk yang mengandung kedua unsur tersebut secara intensif. Pupuk kandang yang berfungsi memperbaiki struktur tanah sehing tanaman dapat menjadi lebih mudah untuk mengambil unsur-unsur yang diperlukannya dengan lebih baik.

 

Kesimpulan

Sesuai dengan karakteristik lahan dan petaninya, lahan pasang surut sulfat masam dengan tipe luapan air B-C sebaiknya diusahakan secara terpadu dengan sistem surjan. Pengaturan pola tanam kedelai-sayuran pada musim kering dan padi-palawija pada musim hujan, yang diusahakan pada lahan tabukan dan guludan dapat memberikan tambahan pendapatan sebesar Rp 9.873.500 pada MK dan Rp 8.887.000 pada MH.

Penerapan teknologi usahatani terpadu atau model introduksi dapat meningkatkan produksi komoditas kedelai sebesar 0,45 t/ha (13,3%), padi 1,2 t/ha (44,4%), jagung sebesar 1,1 t/ha (26,2%), kacang panjang sebesar 0,75 t/ha (15%), dan ternak sebesar 37 kg per siklus pemeliharaan.

Pendapatan bersih yang diperoleh dengan penerapan teknologi introduksi lebih tinggi dan lebih efisien dibandingkan dengan teknologi yang biasa diterapkan petani, dengan rata-rata R/C ratio semua komoditas yang diusahakan adalah 2,9, sehingga teknologi ini sangat layak dikembangkan dalam skala yang lebih luas