KACAMA DUNIA

“Televisi takkan dapat mempertahankan pasar yang diperolehnya setelah enam bulan pertama. Orang akan segera bosan memandangi kotak jati ini tiap malamnya.” (Darrly F. Zanuck, Pemimpin 20Th Century pada tahun 1046)

“Bumi adalah pusat alam semesta”. (Ptolemy, Astronom besar dari Mesir, pada abad kedua}

“Wanita itu sangat cantik, pasti dia sok deh.”

“Percuma saja deh. Saya takkan bisa akur dengannya. Kami benar-benar berbeda.”

Diantara daftar kalimat pernyataan di atas, apanya yang sama ya..?? Pertama, kalimat-kalimat tersebut merupakan persepsi tentang segala sesuatu. Kedua, kalimat-kalimat tersebut tidak tepat atau tidak lengkap, walaupu orang-orang yang mengutarakanya yakin bahwa itu benar.
Kata lain dari persepsi adalah paradigma. Paradigma ialah cara kamu memandang terhadap sesuatu hal, pandanganmu, kerangka acuanmu, atau keyakinanmu. Mungkin sudah pernah kamu perhatikan bahwa paradigma kita tidak jarang keliru, sehingga akhirnya menghasilkan keterbatasan-keterbatasan tertentu. Umpamanya, mungkin kamu yakin bahwa kamu tidak memenuhi syarat untuk sukses. Tetapi ingatlah, bahwa Ptolemy pun sama yakinnya bahwa bumi adalah pusat dari alam semesta.
Coba bayangkan seorang remaja yang merasa tidak mungkin akur dengan ayah tirinya. Kalau paradigmanya seperti itu, apa mungkin ia bisa akur dengan ayah tirinya tersebut..? mungkin tidak, karena keyakinannya itu akan menghambatnya.
Paradigma adalah seperti kacamata. Kalau kamu memiliki paradigma yang tidak lengkap tentang diri sendiri atau kehidupan pada umumnya, itu akan sama saja seperti kamu mengenakan kacamata yang keliru ukurannya. Lensanya akan mempengaruhi bagaimana kamu melihat segalanya. Akibatnya, yang kamu dapatkan adalah apa yang kamu lihat tersebut. Kalau kamu percaya bahwa kamu kurang pandai, maka keyakinanmu itu akan menjadikanmu kurang pandai. Kalau kamu yakin bahwa saudarimu kurang pandai, maka kebanyakan kamu akan mencari bukti-bukti untuk mendukung keyakinanmu, menemukannya, dan saudarimu akan tetap kurang pandai di matamu. Sebaliknya, kalau kamu percaya bahwa kamu cerdas,maka keyakinanmu itu akan selalu mewarnai apapun yang kamu lakukan.
Saat ini saya tidak ingin membagi paradigma menjadi paradigma positive, objective, realism seperti yang saya dapatkan pada mata kuliah Falsafah Sains. Namun, saya lebih suka membagi paradigma menjadi 3, yaitu Paradigma tentang diri sendiri, Paradigma tentang orang lain, dan Paradigma tentang kehidupan pada umumnya. Pada tulisan ini, saya akan membahas tentang Paradigma terhadap diri sendiri, sedangkan Paradigma yang lainnya akan saya coba bahas pada artikel lainnya.

PARADIGMA TENTANG DIRI SENDIRI
Sekarang coba kamu renungkan, Apakah paradigmamu tentang diri sendiri telah membantumu atau malah menghambatmu…??
Ketika teman saya, Lizha, masih sekolah di Sekolah Dasar Citeureup 2, ada pengumuman di kelasnya bagi yang ingin ikut pemilihan Dokter Kecil. Lizha bersama anak-anak lainnya ikut mendaftarkan diri. Namun Lulu, yang duduk depan Lizha tidak ikut.

“Ikut saja Lulu”, kata Lizha mendesak.
“Tidak ah. Aku tidak bisa”.
“Ayolah! Seru kan.”
“Tidak ah. Aku bukan tipe itu.”
“Siapa bilang? Kamu pasti bisa deh!” rayu Lizha.

Lizha dan yang lainnya terus mendorong Lulu hingga akhirnya ia ikut juga mendaftarkan diri.
Lizha ti mikir apa-apa ketika itu. Tujuh tahun kemudian, ia mendapat surat dari Lulu, yang menggambarkan pergumulan batin yang ia alami hari itu dan berterima kasih pada Lizha karena telah membantunya mengubah hidupnya. Lulu bercerita bagaimana ia menderita citra diri yang lemah ketika sekolah dan terkejut ketika Lizha menganggapnya pantas mendaftarkan diri dalam pemilihan tersebut. Akhirnya ia setuju untuk mendaftarkan diri hanya agar Lizha serta teman-teman lainnya tidak mengganggunya lagi.
Lulu bilang bahwa ia begitu tidak enak ikut serta dalam pemilihan itu sehingga ia kemudian menghubungi ibu guru panitia pemilihan Dokter Kecil keesokan harinya, namun sang ibu guru pun mendesak agar Lulu tetap ikut.
Dengan enggan, akhirnya Lulu pun tetap ikut.
Hanya begitu saja kok. Dengan berani berpartisipasi dalam suatu acara yang yang menuntut yang terbaik darinya, Lulu mulai memandang dirinya dengan cara yang baru. Dalam suratnya, Lulu berterima kasih kepada Lizha dari lubuk hatinya karena pada intinya, ia telah mencopot kacamatanya yang rusak, membantingnya ke lantai, dan memaksanya menggunakan kacamata baru.
Lulu bilang bahwa walaupun ia tidak memenangkan pemilihan tersebut, ia telah mengatasi hambatan yang lebih besar lagi: Yaitu persepsinya yang randah terhadap diri sendiri. Karena teladannya, kedua adik perempuannya berpartisipasi dalam berbagai pemilihan atau kontes pada tahun-tahun berikutnya. Hal itu menjadi hal hal yang besar dalam keluarganya.
Tahun berikutnya Lulu menjadi pengurus organisasi siswa dan seperti yang diceritakan dan seperti yang diceritakan Lizha, kepribadianya menjadi supel.
Lulu mengalami apa yang disebut sebagai “pergeseran paradigma”:. Artinya, kamu tiba-tiba memandang segalanya dengan cara baru, seolah-olah kamu baru saja mencoba kaca mata baru.
Sama seperti halnya paradigma yang negative bisa menghambatmu, paradigma yang positif bisa membangkitkan yang terbaik dari dalam diri kamu, seperti yang diilustrasikan dalam kisah Raja Louis 16 dari Perancis:
Raja Louis telah digulingkan dari tahtanya dan dipenjara. Puteranya yang masih muda, sang pangeran, dibawa oleh mereka yang menggulingkan ayahnya. Mereka pikrr, karena pangeran adalah putera mahkota, maka kalau mereka bisa menghancurkannya secara moral, ia takkan pernah mencapai takdir agung yang sebenarnya dianugrahkan kepadanya.
Mereka membawa dia ke suatu komunitas yang jauh, dan disana mereka perlihatkan segala hal yang kotor dan memalukan kepada sang pangeran. Mereka hadapkan dia pada makanan yang akan segera membuatnya diperbudak oleh selera makan. Di dekatnya, mereka selalu menggunakan kata-kata memalukan. Mereka hadapkan dia pada hawa nafsu dan wanita pelacur. Mereka hadapkan dia pada sikap tidak hormat dan tidak percaya. Dua puluh empat jam setiap harinya ia dikelilingi segala hal yang dapat menyeret jiwa seorang pria menjadi serendah-rendahnya. Selama lebih dari enam bulan ia diperlakukan demikian – tetapi tidak sekalipun pangeran ini takluk kepada tekanan. Akhirnya, setelah percobaan yang intensif, mere menanyai dia. Mengapa ia tidak takluk pada semuanya itu – Mengapa ia tidak ikut-ikutan? Padahal semua itu akan akan memberinya kesenangan dan memuaskan hawa nafsunya. Kata pemuda ini, :Saya tidak bisa melakukan apa yang kamu minta, karena saya dilahirkan untuk menjadi seorang raja”.
Pangeran Louis memegang teguh paradigma tentang dirinya sendiri sehingga ia tidak tergoyahkan. Demikian pulalah halnya, kalau kamu bisa menjalani hidup dengan menggunakan kacamata yang mengatakan “aku bisa” atau “aku berarti”, maka keyakinan itu akan memberikan warna positif pada segalanya.
Saat ini mungkin kamu bertanya-tanya. “kalau paradigmaku tentang diri sendiri sudah rusak semua, apa yang dapat kamu perbuat untuk memperbaikinya?” salah satunya adalah dengan melewatkan waktu dengan seseorang yang percaya kepadamu dan suka membangunmu. Bagi saya, itu adalah ayah saya. Ketika saya tumbuh dewasa, ayah saya selalu percaya kepada saya, terutama kalau saya meragukan diri sendiri. Ia selalu mengatakan hal-hal seperti, “Le, tentu kamu harus ikut pemiliha ketua kelas dong”, dan “ajak saja ia menonton, pasti Dia mau”. Setiap kali saya perlu ditegaskan kembali, saya aka bicara sama ayah saya dan ia akan membersihkan kacamata saya.
Tanyakan saja kepada orang sukses manapun, maka kebanyakan akan mengatakan bahwa mereka punya seseorang yang percaya kepada mereka … seorang guru, teman, orang tua, kakak, atau nenek. Hanya satu orang saja, tidak menjadi soal siapa dia. Jangan takut bersandar pada orang ini dan ditumbuhkembangkan olehnya. Pergilah kepadanya untuk minta nasihat. Cobalah memandang dirimu seperti dia memandang kamu. Betapa besar perbedaannya, dengan kacamata baru!
Selamat menggunakan kacamata baru teman…!!!!

Diinspirasi tulisan Sean Covey dalam The 7 Habbits of Highly Effective Teens

Download Click di bawah ini:
2. PARADIGMA DIRI SENDIRI