151119162411_busy_office_640x360_thinkstock_nocredit 

“Tuhan, maaf kami orang-orang yang sibuk. Kami memang takut neraka, tetapi kami kesulitan mencari waktu untuk mengerjakan amalan yang dapat menjauhkan kami dari neraka-Mu. Kami memang berharap surge, tapi kami hampir taka da waktu untuk mencari bekal menuju surge-Mu”

Berapa jam dalam sehari kita sempatkan waktu kita untuk beribadah dan berkomunikasi dengan Allah SWT..? Berapa penghasilan yang kita sisihkan dalam sebulan untuk bersedekah..?

Ya, dari dua pertanyaan itu sudah menunjukkan karakter kita yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk urusan dunia daripada akherat. Teliti kata-kata yang ditulis miring (italic) dan bold sebelumnya, mari kita ber-istigfar. Kita seolah-olah mahluk yang begitu sibuk, bahkan untuk beribadah dan berkomunikasi dengan Allah saja kita harus menyempatkannya. Kita seolah-olah manusia pelit, bahkan untuk akherat kita menyedekahkan harta yang tersisih.

Tak sadar dihadapan Tuhan seolah-olah kita adalah orang yang tersibuk, padahal seluruh waktu, seluruh jatah usia bahkan hidup kita seharusnya kita persembahkan dalam pengabdian kepada-Nya. “Dan Aku tidak ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.: (QS Adz-Dzariyat:56).

Kita sudah sedemikian berani berbohong kepada Allah SWT. Di setiap Iftitah begitu mudah kita berucap, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, matiku, hanya untuk Allah, Tuhan sekalian alam.” Tetapi kelakuan kita justru mengingkarinya.

Tuhan kita maha adil, tetapi mengapa kita tak adil kepada-Nya..? Ketika ada SMS atau Whats app masuk, kita begitu bergegas membaca dan membalasnya, tetapi mengapa ketika Tuhan memanggil-manggil untuk menghadap-Nya kita begitu berani menunda-nundanya..?

Ketika atasan kita memanggil, betapa takutnya kita sehingga dengan cepat kita menghadapnya, namun ketika panggilan Tuhan berkumandang, betapa berani dan lamanya kita untuk menghadap-Nya. Padahal yang memanggil kita adalah Tuhannya atasan kita.

Saudaraku dengarlah kalimat-kalimat muadzin yang berkumandang, paling tidak lima kali sehari. Kalimatnya hanya mengajak kita untuk melaksanakan shalat, tetapi disusul dengan tawaran kesuksessan. Dengarlah panggilan Tuhan yang dikumandangkan Muadzin. Hayya ‘alash sholah (Mari menunaikan shalat). Tak hanya cukup, tetapi dilanjutkan dengan balasan yang indah, Hayya ‘alal falah. (Mari meraih kemenangan). Seolah Tuhan berkata, wahai manusia berhentilah dari rutinitas kerjamu, istirahatlah sejenak dari kesibukanmu. Shalatlah dan sambutlah kemenangan. Shalatlah, dan sambutlah kesuksessan. Shalatlah, dan yakinlah kerjamu akan membuahkan keberhasilan dan lebih berkah.

Tapi tidak, kita masih begitu pelit kepada Tuhan, bahkan untuk bersedekahpun kita menyisih-nyisihkan harta kita. Kita begitu boros untuk dunia, tetapi untuk bekal kehidupan abadi, malah kita tabung dari harta yang tersisih. Sedekah kita tak lebih dari harta yang tak begitu kita cintai. Jangankan sedekah, bahkan zakat yang hanya 2.5 persen suka terkadang begitu berat terambil dari dompet.

Betapa kecilnya harga uang ketika kita sedang berhadapan dengan penjual baju. Betapa murahnya angka satu juta ketika kita sedang shopping. Betapa kecilnya nagka seratus ribu ketika belikan pulsa. Tetapi ketika ada kotak amal berjalan, ada pengemis mengiba pinta, ketika ada anak kecil dengan wajah kusam mengamen dan menadahkan tangannya yang masih suci, berapa jumlah uang yang kita ambil dari dompet..? betapa besarnya nilai uang seratus ribu apabila dibawa ke majid untuk disumbangkan, tetapi betapa kecilnya kalau dibawa ke mall untuk dibelanjakan. Ya Allah, tak sadar kita begitu pelit ketika dihadapkan pada bekal akherat, tetapi untuk menuruti hawa nafsu dan keinginan-keinginan dunia, betapa ringan kita rogohkan tangan. Padahal seharusnya justru sebaliknya, pelitlah untuk dunia, dan boroskan harta untuk akherat.

Tapi, tidak. Kita semua sudah begitu terjungkal konsep pemikiran dalam memaknai hidup. Ingatlah ketika shalat, kita seolah tak kerasan dan tak betah berkomunikasi dengan Tuhan. Jangankan khusyuk, bahkan menyadari apa yang dibaca saja tidak sempat. Betapa lamanya lima belas menit jika kita gunakan untuk menyembah Allah SWT, tetapi betapa singkatnya jika digunakan untuk menonton film atau membalas WA. Betapa nyamannya apabila pertandingan bola ada perpanjangan waktu sampai adu penalty, namun ketika mendengar khotbah di masjid yang lebih lama sedikit daripada biasanya kita begitu mudahnya untuk mengeluh.

Saudaraku, berapa waktu pagi yang kita habiskan untuk membaca Koran..? kemudian bandingkan, berapa waktu yang kita habiskan untuk membaca Surat Cinta dari Tuhan. Ah, betapa sulit menyempatkan waktu untuk membaca satu halam Kitab Suci, tapi betapa mudahnya membaca ratusan halaman novel.

Saudaraku, kita lebih sering menghabiskan sisa usia dengan obrolan-obrolan tanpa makna, tetapi untuk berdoa kepada Allah berapa waktu yang kita sisihkan..? Astagfirullah, betapa sulitnya kita merangkai kata demi kata ketika berdoa kepada Tuhan, namun betapa mudahnya kita menyusun kalimat panjang, ketika menggunjing tetangga, bergosip dengan teman, dan mengobrol tanpa makna.

Betapa semangatnya kita duduk di barisan paling depan ketika menonton pertandingan atau konser music, tetapi ketika berjemaah mengapa kita lebih memilih shaf belakang..?

Betapa sulitnya mempelajari arti yang terkandung di dalam Kitab Suci. Betapa sulitnya kita mengimani apa yang dikatakah Allah SWT dan Rasullah SAW. Tetapi betapa mudahnya kita mempercayai apa yang dikatakan oleh Koran dan media social. Ya, tiap pagi Koran dan media social menjadi sarapan wajib, tetapi hampir setiap hari seolah tak ada jeda untuk mengisi waktu untuk tilawah.

Bertahun-tahun begitu mudah kita habiskan usia untuk memuaskan nafsu-nafsu. Bertahun-tahun begitu mudah kita mengumbar semua keinginan. Tetapi mengapa untuk berpuasa beberapa hari saja kita terlalu banyak mengeluh kesah. Mengapa untuk menahan diri beberapa saat saja kita terus mengiba.

Ah, setiap orang begitu takut ketika diancam neraka, tetapi kelakuan-kelakuan mereka seolah-olah sedang memohon untuk dimasukkan ke neraka secepatnya. Betapa setiap orang ingin menginjakkan kaki di pelataran surga, tetapi kelakuan-kelakuannya justru menjauhkannya.

Tuhan, Harap Maklumi Kami

Tuhan, harap maklumi kami, manusia-manusia yang begitu banyak kegiatan. Kami benar-benar sibuk, sehingga kami amat kesulitan menyempatkan waktu untuk-Mu.

Tuhan, harap maklumi kami, hamba-hamba-Mu yang begitu padat rutinitas, sehingga kami sangat kesulitan mengatur jadwal untuk menghadapmu.

Tuhan, kami sangat sibuk, jangankan berjamaah, bahkan munfarid pun kami tertunda-tunda. Jangankan rawatib, zikir, berdoa, tahajud, bahkan kewajiban-Mu yang lima waktu saja sudah sangat memberatkan kami. Jangankan puasa senin – kamis, jangankan Ayyaamul baith, jangankan puasa nabii daud, bahkan puasa Ramadhan saja kami sering mengeluh.

Tuhan, maafkan kami. Kebutuhan kami di dunia ini masih sangatlah banyak, sehingga kami sangat kesulitan membersihkan sebagian harta untuk bekal kami di adalam abadi-Mu. Jangankan sedekah, jangankan jariah, bahkan mengeluarkan zakat yang wajib saja sering kali terlupa.

Tuhan, maafkan kami. Kekayaan kami belumlah seberapa, kami masih perlu banyak menabung, sehingga kami tidak bisa menyisihkan sebagian rezeki dari-Mu untuk memperjuangkan agama-Mu

Tuhan, maafkan kami. Kami tidak sempat bersyukur. Jiwa kami begitu rakus. Kami tak kunjung puas dengan nikmat-nikmatMu, sehingga kami kesulitan mencari-cari mana karunia-Mu yang layak kami syukuri.

Tuhan, maaf kami orang-orang sibuk. Bahkan kami kesulitan mencari waktu untuk mengerjakan amalan yang dapat menjauhkan kami dari neraka-Mu. Kami hampir tidak ada waktu untuk mencari bekal menuju surgamu

Tuhan, urusan-urusan dunia kami masih amatlah banyak. Jadwal kami masih amatlah padat. Kami amat kesulitan menyempatkan waktu untuk mencari bekal menghadap-Mu. Kami masih belum bisa meluangkan waktu untuk khusyuk dalam rukuk, menyungkur sujud, menangis, mengiba, berdoa dan mendekatkan jiwa sedekat mungkin dengan-Mu. Tuhan, tolong jangan dulu Engkau menyuruh malaikat Izrail untuk mengambil nyawa kami, karena kami masih terlalu sibuk. Tuhan maaf, kami terlalu sibuk. Padahal Engkau memerintahkan kami berwudhu untuk membasuh wajah kami yang telah penat memikirkan dunia. Padahal Engkal meminta kami bertakbir ketika jiwa kami terasa letih menggapai cita. Padahal Engkau perintahkan kami bersujud untuk meregangkan pundak kami yang telah letih memikul amanah.

Tuhan, maaf karena selama ini kami terlalu sibuk. Kami terlalu sombong kepada-Mu, seolah kami tidak membutuhkan-Mu. Tuhan, maaf selama ini kami merasa sok sibuk. Padahal Engkaulah yang mahasibuk. Kami seringkali telat menghadap-Mu, padahal Engkau tak pernah sekalipun memberi kami makan dan minum setiap hari. Kami sering kali lupamenunaikan kewajiban kepada-Mu, padahal Engkau tak pernah lupa menerbitkan mathari di pagi hari. Kami sering kali lalai mengingat-Mu, padahal Engkau tak pernah sekalipun lalai mempergilirkan siang dan malam. Setiap saat keburukan kami naik disampaikan para malaikat kepada-Mu, sementara kebaikan-Mu setiap detik tercurah kepada kami.

Sumber: Buku “Tuhan, Maaf Kami Sedang Sibuk” karangan Ahmad Rifa’i Rif’an