Latest Entries »


151119162411_busy_office_640x360_thinkstock_nocredit 

“Tuhan, maaf kami orang-orang yang sibuk. Kami memang takut neraka, tetapi kami kesulitan mencari waktu untuk mengerjakan amalan yang dapat menjauhkan kami dari neraka-Mu. Kami memang berharap surge, tapi kami hampir taka da waktu untuk mencari bekal menuju surge-Mu”

Berapa jam dalam sehari kita sempatkan waktu kita untuk beribadah dan berkomunikasi dengan Allah SWT..? Berapa penghasilan yang kita sisihkan dalam sebulan untuk bersedekah..?

Ya, dari dua pertanyaan itu sudah menunjukkan karakter kita yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk urusan dunia daripada akherat. Teliti kata-kata yang ditulis miring (italic) dan bold sebelumnya, mari kita ber-istigfar. Kita seolah-olah mahluk yang begitu sibuk, bahkan untuk beribadah dan berkomunikasi dengan Allah saja kita harus menyempatkannya. Kita seolah-olah manusia pelit, bahkan untuk akherat kita menyedekahkan harta yang tersisih.

Tak sadar dihadapan Tuhan seolah-olah kita adalah orang yang tersibuk, padahal seluruh waktu, seluruh jatah usia bahkan hidup kita seharusnya kita persembahkan dalam pengabdian kepada-Nya. “Dan Aku tidak ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.: (QS Adz-Dzariyat:56).

Kita sudah sedemikian berani berbohong kepada Allah SWT. Di setiap Iftitah begitu mudah kita berucap, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, matiku, hanya untuk Allah, Tuhan sekalian alam.” Tetapi kelakuan kita justru mengingkarinya.

Tuhan kita maha adil, tetapi mengapa kita tak adil kepada-Nya..? Ketika ada SMS atau Whats app masuk, kita begitu bergegas membaca dan membalasnya, tetapi mengapa ketika Tuhan memanggil-manggil untuk menghadap-Nya kita begitu berani menunda-nundanya..?

Ketika atasan kita memanggil, betapa takutnya kita sehingga dengan cepat kita menghadapnya, namun ketika panggilan Tuhan berkumandang, betapa berani dan lamanya kita untuk menghadap-Nya. Padahal yang memanggil kita adalah Tuhannya atasan kita.

Saudaraku dengarlah kalimat-kalimat muadzin yang berkumandang, paling tidak lima kali sehari. Kalimatnya hanya mengajak kita untuk melaksanakan shalat, tetapi disusul dengan tawaran kesuksessan. Dengarlah panggilan Tuhan yang dikumandangkan Muadzin. Hayya ‘alash sholah (Mari menunaikan shalat). Tak hanya cukup, tetapi dilanjutkan dengan balasan yang indah, Hayya ‘alal falah. (Mari meraih kemenangan). Seolah Tuhan berkata, wahai manusia berhentilah dari rutinitas kerjamu, istirahatlah sejenak dari kesibukanmu. Shalatlah dan sambutlah kemenangan. Shalatlah, dan sambutlah kesuksessan. Shalatlah, dan yakinlah kerjamu akan membuahkan keberhasilan dan lebih berkah.

Tapi tidak, kita masih begitu pelit kepada Tuhan, bahkan untuk bersedekahpun kita menyisih-nyisihkan harta kita. Kita begitu boros untuk dunia, tetapi untuk bekal kehidupan abadi, malah kita tabung dari harta yang tersisih. Sedekah kita tak lebih dari harta yang tak begitu kita cintai. Jangankan sedekah, bahkan zakat yang hanya 2.5 persen suka terkadang begitu berat terambil dari dompet.

Betapa kecilnya harga uang ketika kita sedang berhadapan dengan penjual baju. Betapa murahnya angka satu juta ketika kita sedang shopping. Betapa kecilnya nagka seratus ribu ketika belikan pulsa. Tetapi ketika ada kotak amal berjalan, ada pengemis mengiba pinta, ketika ada anak kecil dengan wajah kusam mengamen dan menadahkan tangannya yang masih suci, berapa jumlah uang yang kita ambil dari dompet..? betapa besarnya nilai uang seratus ribu apabila dibawa ke majid untuk disumbangkan, tetapi betapa kecilnya kalau dibawa ke mall untuk dibelanjakan. Ya Allah, tak sadar kita begitu pelit ketika dihadapkan pada bekal akherat, tetapi untuk menuruti hawa nafsu dan keinginan-keinginan dunia, betapa ringan kita rogohkan tangan. Padahal seharusnya justru sebaliknya, pelitlah untuk dunia, dan boroskan harta untuk akherat.

Tapi, tidak. Kita semua sudah begitu terjungkal konsep pemikiran dalam memaknai hidup. Ingatlah ketika shalat, kita seolah tak kerasan dan tak betah berkomunikasi dengan Tuhan. Jangankan khusyuk, bahkan menyadari apa yang dibaca saja tidak sempat. Betapa lamanya lima belas menit jika kita gunakan untuk menyembah Allah SWT, tetapi betapa singkatnya jika digunakan untuk menonton film atau membalas WA. Betapa nyamannya apabila pertandingan bola ada perpanjangan waktu sampai adu penalty, namun ketika mendengar khotbah di masjid yang lebih lama sedikit daripada biasanya kita begitu mudahnya untuk mengeluh.

Saudaraku, berapa waktu pagi yang kita habiskan untuk membaca Koran..? kemudian bandingkan, berapa waktu yang kita habiskan untuk membaca Surat Cinta dari Tuhan. Ah, betapa sulit menyempatkan waktu untuk membaca satu halam Kitab Suci, tapi betapa mudahnya membaca ratusan halaman novel.

Saudaraku, kita lebih sering menghabiskan sisa usia dengan obrolan-obrolan tanpa makna, tetapi untuk berdoa kepada Allah berapa waktu yang kita sisihkan..? Astagfirullah, betapa sulitnya kita merangkai kata demi kata ketika berdoa kepada Tuhan, namun betapa mudahnya kita menyusun kalimat panjang, ketika menggunjing tetangga, bergosip dengan teman, dan mengobrol tanpa makna.

Betapa semangatnya kita duduk di barisan paling depan ketika menonton pertandingan atau konser music, tetapi ketika berjemaah mengapa kita lebih memilih shaf belakang..?

Betapa sulitnya mempelajari arti yang terkandung di dalam Kitab Suci. Betapa sulitnya kita mengimani apa yang dikatakah Allah SWT dan Rasullah SAW. Tetapi betapa mudahnya kita mempercayai apa yang dikatakan oleh Koran dan media social. Ya, tiap pagi Koran dan media social menjadi sarapan wajib, tetapi hampir setiap hari seolah tak ada jeda untuk mengisi waktu untuk tilawah.

Bertahun-tahun begitu mudah kita habiskan usia untuk memuaskan nafsu-nafsu. Bertahun-tahun begitu mudah kita mengumbar semua keinginan. Tetapi mengapa untuk berpuasa beberapa hari saja kita terlalu banyak mengeluh kesah. Mengapa untuk menahan diri beberapa saat saja kita terus mengiba.

Ah, setiap orang begitu takut ketika diancam neraka, tetapi kelakuan-kelakuan mereka seolah-olah sedang memohon untuk dimasukkan ke neraka secepatnya. Betapa setiap orang ingin menginjakkan kaki di pelataran surga, tetapi kelakuan-kelakuannya justru menjauhkannya.

Tuhan, Harap Maklumi Kami

Tuhan, harap maklumi kami, manusia-manusia yang begitu banyak kegiatan. Kami benar-benar sibuk, sehingga kami amat kesulitan menyempatkan waktu untuk-Mu.

Tuhan, harap maklumi kami, hamba-hamba-Mu yang begitu padat rutinitas, sehingga kami sangat kesulitan mengatur jadwal untuk menghadapmu.

Tuhan, kami sangat sibuk, jangankan berjamaah, bahkan munfarid pun kami tertunda-tunda. Jangankan rawatib, zikir, berdoa, tahajud, bahkan kewajiban-Mu yang lima waktu saja sudah sangat memberatkan kami. Jangankan puasa senin – kamis, jangankan Ayyaamul baith, jangankan puasa nabii daud, bahkan puasa Ramadhan saja kami sering mengeluh.

Tuhan, maafkan kami. Kebutuhan kami di dunia ini masih sangatlah banyak, sehingga kami sangat kesulitan membersihkan sebagian harta untuk bekal kami di adalam abadi-Mu. Jangankan sedekah, jangankan jariah, bahkan mengeluarkan zakat yang wajib saja sering kali terlupa.

Tuhan, maafkan kami. Kekayaan kami belumlah seberapa, kami masih perlu banyak menabung, sehingga kami tidak bisa menyisihkan sebagian rezeki dari-Mu untuk memperjuangkan agama-Mu

Tuhan, maafkan kami. Kami tidak sempat bersyukur. Jiwa kami begitu rakus. Kami tak kunjung puas dengan nikmat-nikmatMu, sehingga kami kesulitan mencari-cari mana karunia-Mu yang layak kami syukuri.

Tuhan, maaf kami orang-orang sibuk. Bahkan kami kesulitan mencari waktu untuk mengerjakan amalan yang dapat menjauhkan kami dari neraka-Mu. Kami hampir tidak ada waktu untuk mencari bekal menuju surgamu

Tuhan, urusan-urusan dunia kami masih amatlah banyak. Jadwal kami masih amatlah padat. Kami amat kesulitan menyempatkan waktu untuk mencari bekal menghadap-Mu. Kami masih belum bisa meluangkan waktu untuk khusyuk dalam rukuk, menyungkur sujud, menangis, mengiba, berdoa dan mendekatkan jiwa sedekat mungkin dengan-Mu. Tuhan, tolong jangan dulu Engkau menyuruh malaikat Izrail untuk mengambil nyawa kami, karena kami masih terlalu sibuk. Tuhan maaf, kami terlalu sibuk. Padahal Engkau memerintahkan kami berwudhu untuk membasuh wajah kami yang telah penat memikirkan dunia. Padahal Engkal meminta kami bertakbir ketika jiwa kami terasa letih menggapai cita. Padahal Engkau perintahkan kami bersujud untuk meregangkan pundak kami yang telah letih memikul amanah.

Tuhan, maaf karena selama ini kami terlalu sibuk. Kami terlalu sombong kepada-Mu, seolah kami tidak membutuhkan-Mu. Tuhan, maaf selama ini kami merasa sok sibuk. Padahal Engkaulah yang mahasibuk. Kami seringkali telat menghadap-Mu, padahal Engkau tak pernah sekalipun memberi kami makan dan minum setiap hari. Kami sering kali lupamenunaikan kewajiban kepada-Mu, padahal Engkau tak pernah lupa menerbitkan mathari di pagi hari. Kami sering kali lalai mengingat-Mu, padahal Engkau tak pernah sekalipun lalai mempergilirkan siang dan malam. Setiap saat keburukan kami naik disampaikan para malaikat kepada-Mu, sementara kebaikan-Mu setiap detik tercurah kepada kami.

Sumber: Buku “Tuhan, Maaf Kami Sedang Sibuk” karangan Ahmad Rifa’i Rif’an


Format dan laporan praktikum dasar-dasar pemuliaan tanaman klik: FORMAT LAPORAN DASPMT1 dan TEMPLATE FORMAT LAPORAN DASPMT1


TORA IPB Tomat TORA IPB “Tomat non hibrida serupa hibrida” berhasil menjadi salah satu 107 Inovasi Indonesia Kategori Teknologi pada tahun 2015 yang dikeluarkan oleh Kemenristek DIKTI. Tomat yang dikembangkan oleh para inovator dari IPB (Prof. Muhamad Syukur, Prof Sobir, Dr. Awang Maharijaya, Abdul Hakim, SP., MSi dan Arya Widura Ritonga, SP., MSi) ini memiliki produktivitas yang tinggi serupa tomat hibrida. Tomat TORA IPB ini juga beradaptasi sangat baik di dataran rendah sehingga dapat lebih ramah lingkungan (tidak merusak lahan di dataran tinggi).

KACAMATA DIRI


KACAMA DUNIA

“Televisi takkan dapat mempertahankan pasar yang diperolehnya setelah enam bulan pertama. Orang akan segera bosan memandangi kotak jati ini tiap malamnya.” (Darrly F. Zanuck, Pemimpin 20Th Century pada tahun 1046)

“Bumi adalah pusat alam semesta”. (Ptolemy, Astronom besar dari Mesir, pada abad kedua}

“Wanita itu sangat cantik, pasti dia sok deh.”

“Percuma saja deh. Saya takkan bisa akur dengannya. Kami benar-benar berbeda.”

Diantara daftar kalimat pernyataan di atas, apanya yang sama ya..?? Pertama, kalimat-kalimat tersebut merupakan persepsi tentang segala sesuatu. Kedua, kalimat-kalimat tersebut tidak tepat atau tidak lengkap, walaupu orang-orang yang mengutarakanya yakin bahwa itu benar.
Kata lain dari persepsi adalah paradigma. Paradigma ialah cara kamu memandang terhadap sesuatu hal, pandanganmu, kerangka acuanmu, atau keyakinanmu. Mungkin sudah pernah kamu perhatikan bahwa paradigma kita tidak jarang keliru, sehingga akhirnya menghasilkan keterbatasan-keterbatasan tertentu. Umpamanya, mungkin kamu yakin bahwa kamu tidak memenuhi syarat untuk sukses. Tetapi ingatlah, bahwa Ptolemy pun sama yakinnya bahwa bumi adalah pusat dari alam semesta.
Coba bayangkan seorang remaja yang merasa tidak mungkin akur dengan ayah tirinya. Kalau paradigmanya seperti itu, apa mungkin ia bisa akur dengan ayah tirinya tersebut..? mungkin tidak, karena keyakinannya itu akan menghambatnya.
Paradigma adalah seperti kacamata. Kalau kamu memiliki paradigma yang tidak lengkap tentang diri sendiri atau kehidupan pada umumnya, itu akan sama saja seperti kamu mengenakan kacamata yang keliru ukurannya. Lensanya akan mempengaruhi bagaimana kamu melihat segalanya. Akibatnya, yang kamu dapatkan adalah apa yang kamu lihat tersebut. Kalau kamu percaya bahwa kamu kurang pandai, maka keyakinanmu itu akan menjadikanmu kurang pandai. Kalau kamu yakin bahwa saudarimu kurang pandai, maka kebanyakan kamu akan mencari bukti-bukti untuk mendukung keyakinanmu, menemukannya, dan saudarimu akan tetap kurang pandai di matamu. Sebaliknya, kalau kamu percaya bahwa kamu cerdas,maka keyakinanmu itu akan selalu mewarnai apapun yang kamu lakukan.
Saat ini saya tidak ingin membagi paradigma menjadi paradigma positive, objective, realism seperti yang saya dapatkan pada mata kuliah Falsafah Sains. Namun, saya lebih suka membagi paradigma menjadi 3, yaitu Paradigma tentang diri sendiri, Paradigma tentang orang lain, dan Paradigma tentang kehidupan pada umumnya. Pada tulisan ini, saya akan membahas tentang Paradigma terhadap diri sendiri, sedangkan Paradigma yang lainnya akan saya coba bahas pada artikel lainnya.

PARADIGMA TENTANG DIRI SENDIRI
Sekarang coba kamu renungkan, Apakah paradigmamu tentang diri sendiri telah membantumu atau malah menghambatmu…??
Ketika teman saya, Lizha, masih sekolah di Sekolah Dasar Citeureup 2, ada pengumuman di kelasnya bagi yang ingin ikut pemilihan Dokter Kecil. Lizha bersama anak-anak lainnya ikut mendaftarkan diri. Namun Lulu, yang duduk depan Lizha tidak ikut.

“Ikut saja Lulu”, kata Lizha mendesak.
“Tidak ah. Aku tidak bisa”.
“Ayolah! Seru kan.”
“Tidak ah. Aku bukan tipe itu.”
“Siapa bilang? Kamu pasti bisa deh!” rayu Lizha.

Lizha dan yang lainnya terus mendorong Lulu hingga akhirnya ia ikut juga mendaftarkan diri.
Lizha ti mikir apa-apa ketika itu. Tujuh tahun kemudian, ia mendapat surat dari Lulu, yang menggambarkan pergumulan batin yang ia alami hari itu dan berterima kasih pada Lizha karena telah membantunya mengubah hidupnya. Lulu bercerita bagaimana ia menderita citra diri yang lemah ketika sekolah dan terkejut ketika Lizha menganggapnya pantas mendaftarkan diri dalam pemilihan tersebut. Akhirnya ia setuju untuk mendaftarkan diri hanya agar Lizha serta teman-teman lainnya tidak mengganggunya lagi.
Lulu bilang bahwa ia begitu tidak enak ikut serta dalam pemilihan itu sehingga ia kemudian menghubungi ibu guru panitia pemilihan Dokter Kecil keesokan harinya, namun sang ibu guru pun mendesak agar Lulu tetap ikut.
Dengan enggan, akhirnya Lulu pun tetap ikut.
Hanya begitu saja kok. Dengan berani berpartisipasi dalam suatu acara yang yang menuntut yang terbaik darinya, Lulu mulai memandang dirinya dengan cara yang baru. Dalam suratnya, Lulu berterima kasih kepada Lizha dari lubuk hatinya karena pada intinya, ia telah mencopot kacamatanya yang rusak, membantingnya ke lantai, dan memaksanya menggunakan kacamata baru.
Lulu bilang bahwa walaupun ia tidak memenangkan pemilihan tersebut, ia telah mengatasi hambatan yang lebih besar lagi: Yaitu persepsinya yang randah terhadap diri sendiri. Karena teladannya, kedua adik perempuannya berpartisipasi dalam berbagai pemilihan atau kontes pada tahun-tahun berikutnya. Hal itu menjadi hal hal yang besar dalam keluarganya.
Tahun berikutnya Lulu menjadi pengurus organisasi siswa dan seperti yang diceritakan dan seperti yang diceritakan Lizha, kepribadianya menjadi supel.
Lulu mengalami apa yang disebut sebagai “pergeseran paradigma”:. Artinya, kamu tiba-tiba memandang segalanya dengan cara baru, seolah-olah kamu baru saja mencoba kaca mata baru.
Sama seperti halnya paradigma yang negative bisa menghambatmu, paradigma yang positif bisa membangkitkan yang terbaik dari dalam diri kamu, seperti yang diilustrasikan dalam kisah Raja Louis 16 dari Perancis:
Raja Louis telah digulingkan dari tahtanya dan dipenjara. Puteranya yang masih muda, sang pangeran, dibawa oleh mereka yang menggulingkan ayahnya. Mereka pikrr, karena pangeran adalah putera mahkota, maka kalau mereka bisa menghancurkannya secara moral, ia takkan pernah mencapai takdir agung yang sebenarnya dianugrahkan kepadanya.
Mereka membawa dia ke suatu komunitas yang jauh, dan disana mereka perlihatkan segala hal yang kotor dan memalukan kepada sang pangeran. Mereka hadapkan dia pada makanan yang akan segera membuatnya diperbudak oleh selera makan. Di dekatnya, mereka selalu menggunakan kata-kata memalukan. Mereka hadapkan dia pada hawa nafsu dan wanita pelacur. Mereka hadapkan dia pada sikap tidak hormat dan tidak percaya. Dua puluh empat jam setiap harinya ia dikelilingi segala hal yang dapat menyeret jiwa seorang pria menjadi serendah-rendahnya. Selama lebih dari enam bulan ia diperlakukan demikian – tetapi tidak sekalipun pangeran ini takluk kepada tekanan. Akhirnya, setelah percobaan yang intensif, mere menanyai dia. Mengapa ia tidak takluk pada semuanya itu – Mengapa ia tidak ikut-ikutan? Padahal semua itu akan akan memberinya kesenangan dan memuaskan hawa nafsunya. Kata pemuda ini, :Saya tidak bisa melakukan apa yang kamu minta, karena saya dilahirkan untuk menjadi seorang raja”.
Pangeran Louis memegang teguh paradigma tentang dirinya sendiri sehingga ia tidak tergoyahkan. Demikian pulalah halnya, kalau kamu bisa menjalani hidup dengan menggunakan kacamata yang mengatakan “aku bisa” atau “aku berarti”, maka keyakinan itu akan memberikan warna positif pada segalanya.
Saat ini mungkin kamu bertanya-tanya. “kalau paradigmaku tentang diri sendiri sudah rusak semua, apa yang dapat kamu perbuat untuk memperbaikinya?” salah satunya adalah dengan melewatkan waktu dengan seseorang yang percaya kepadamu dan suka membangunmu. Bagi saya, itu adalah ayah saya. Ketika saya tumbuh dewasa, ayah saya selalu percaya kepada saya, terutama kalau saya meragukan diri sendiri. Ia selalu mengatakan hal-hal seperti, “Le, tentu kamu harus ikut pemiliha ketua kelas dong”, dan “ajak saja ia menonton, pasti Dia mau”. Setiap kali saya perlu ditegaskan kembali, saya aka bicara sama ayah saya dan ia akan membersihkan kacamata saya.
Tanyakan saja kepada orang sukses manapun, maka kebanyakan akan mengatakan bahwa mereka punya seseorang yang percaya kepada mereka … seorang guru, teman, orang tua, kakak, atau nenek. Hanya satu orang saja, tidak menjadi soal siapa dia. Jangan takut bersandar pada orang ini dan ditumbuhkembangkan olehnya. Pergilah kepadanya untuk minta nasihat. Cobalah memandang dirimu seperti dia memandang kamu. Betapa besar perbedaannya, dengan kacamata baru!
Selamat menggunakan kacamata baru teman…!!!!

Diinspirasi tulisan Sean Covey dalam The 7 Habbits of Highly Effective Teens

Download Click di bawah ini:
2. PARADIGMA DIRI SENDIRI


Alhamdulillah setelah sekian lama, akhirnya bisa memposting kembali tulisan popular dalam blog ini. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi teman-teman yang ingin hidup sukses dan bahagia. Selamat membaca teman-teman..

Perlu teman-teman semua sadari bahwa faktanya adalah bahwa kita tidak mungkin mengendalikan segala yang terjadi pada kita. Kita tidak mungkin mengendalikan warna kulit kita, siapa juara liga champion, dimana kita lahir, siapa orang tua kita, dengan siapa Ketty Perry menikah, atau bagaimana orang-oang memperlakukan kita. Namun, ada satu hal yang bisa kita kendalikan: Bagaimana reaksi kita terhadap apa yang terjadi pada kita. Dan justru itulah yang paling penting..! Itulah sebabnya kita perlu berhenti menguatirkan hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan dan mulai berusaha mengendalikan hal-hal yang bisa kita kendalikan.

Bayangkan dua buah kotak. Yang sebelah dalam adalah kotak pengaruh kita. Kotak ini mencakup segala hal yang bisa kita kendalikan, seperti diri sendiri, sikap kita, pilihan kita, respon kita terhadap apapun yang terjadi pada diri kita. Sedangkan kotak diluarnya adalah segal hal yang diluar pengaruh kita. Kotak ini mencakup ribuan hal yang tidak bisa kita apa-apakan (Gambar 1).

KOTAK PENGARUH

Nah, bagaimana jadinya kalau kita buang-buang waktu dan tenaga mengkuatirkan hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan, seperti komentar kasar, kesalahan di masa lalu, atau cuaca..? Pikir saja sendiri..!! kita bisa semakin lepas kendali jadinya, seolah-olah kita yang jadi korban.

Umpanya, ketika kamu sedang menunggu hasil tes CPNS dan kamu terus mengeluh karena pengumumannya sudah hampir 6 bulan belum dikeluarkan (sesuatu yang tidak dapat kamu kendalikan), itu takkan ada gunanya kan..? itu hanya membuat kamu menyalahakan pemerintah dan kehilangan kuasamu sendiri.

Fatimah bercerita tentang suatu kisah yang mengilustrasikan hal ini. Suatu minggu sebelum pertandingan volinya, Fatimah mendengar bahwa Ibu dari pemain lawannya mengolok-olok kemampuan Fatimah dalam bermain voli. Bukannya mengabaikan komentar tersebut, Fatimah jadi marah-marah pada minggu itu. Ketika pertandingan tiba, satu-satunya sasarannya adalah membuktikan kepada kepada Ibu lawannya tersebut bahwa ia adalah pemain yang baik. Singkat kata, permainan Fatimah pada hari itu ternyata payah, bahkan ia lebih banyak duduk dibangku cadangan dan akhirnya timnya pun kalah. Fatimah terlalu focus pada sesuatu yang tidak dapay ia kendalikan (apa kata orang tentangnya) sehingga ia kehilangan kendali atas satu-satunya hal yang dapat ia kendalikan, yaitu dirinya sendiri.

Sebaliknya, orang yang sukses dan bahagia biasanya akan memfokuskan perhatiannya di tempat lain …. Yaitu pada hal-hal yang bisa mereka kendalian. dengan demikian mereka mengalami kedamaian batin dan lebih dapat mengendalikan hidupnya. Mereka belajar tersenyum dan hidup bersama dengan banyak hal yang tidak bisa mereka apa-apakan. Mungkin mereka tidak suka dengan hal tersebut, tetapi mereka tahu bahwa tidak ada gunanya juga jika terus dipikirkan.


KATALOG PELATIHAN AGROEKOTEKNOLOGI :
KLIK KATALOG PELATIHAN DAN PENDAMPINGAN AGROEKOTEKNOLOGI UNIVERSITAS TRILOGI


Materi Kuliah Dasar Pemuliaan Tanaman

Kuliah 10: New…!!!
Slide kuliah: 10. PPT Pendaftaran, Pelepasan, dan Perlindungan Varietas Tanaman
Bahan bacaan: 10. BAHAN PENDAFTARAN PELEPASAN DAN PERLINDUNGAN VARIETAS TANAMAN

Kuliah 7:
7. PEMULIAAN TANAMAN MENYERBUK SILANG

Kuliah 6:
2. PEMULIAAN TANAMAN MENYERBUK SENDIRI

Kuliah 2:
2. GENETIKA UNTUK PEMULIAAN TANAMAN 1

Kuliah 1:
1. PENDAHULUAN


Pratikum 8 : New…!!!
HIBRIDISASI BUATAN CABAI

Pratikum 4 :
4. Statistik untuk Pemuliaan 1 (Ragam, heritabilitas, korelasi)

Pratikum 3 :
3. PENANAMAN JAGUNG MANISSS

Power Point Animation


Seleksi Galur Murni :
Seleksi Galur Murni

Mass Selection :
Seleksi Massa

Self Pollination 1:
Penyerbukan Sendiri 1

Self Pollination 2:
Penyerbukan Sendiri 2


1. Ikhtiar (bekerja) Sebaik-baiknya
Kesuksesan wilayahnya Allah SWT, sedangkan kita wilayah kita sebagai manusia adalah ikhtiar dengan sebaik-baiknya. Jadi dosen, harus dosen yang terbaik. Jadi pejabat, harus pejabat yang baik. Bahkan jadi tukang baso, juga harus yang terbaik ikhtiarnya. Semakin baik ikhtiar kita, maka semakin dekat juga kesuksesasan kita.
2. Doa
Saya yakin, tidak ada satupun kesuksessan 100% berasal dari ikhtiar atau kerja keras kita. Pada setiap kesuksessan, pasti ada doa yang menyertainya. Doa diri kita sendiri atau bahkan doa orang tua kita. Ya benar, orang tua kita pasti sellalu berdoa agar anak-anaknya menjadi orang yang sukses di kemudian hari kelak. Selain itu, juga masih ada doa dari suami atau istri kita, adik kita, teman kita, dan orang-orang lainnya yang mencintai kita. Oleh karena itu, maka tebarkanlah kebaikan dimana saja kita berada agar doa-doa mereka selalu menyertai kita.
3. Bersyukur
Jika kesuksesan telah kita raih, maka hendaknya kita bersyukur. Karena dengan bersyukur, maka janji Allah akan menambah nikmat kita. Dengan bersyukur, kita juga akan belajar menjadi menjadi rendah hati dan tidak sombong. Kesombongan, dipercaya atau tidak akan dekat sekali dengan kehancuran. Hal ini sudah banyak diceritakan dalam Al-Quran pada umat-umat terdahulu.
4. Bersabar
Jika kesuksesan belum dating pada kita, maka hendaknya kita bersabar. Perlu kita ketahui, bahwa kenikmatan yang Allah berikan tidak selalu harus diberikan langsung kepada kita. Sebagai contoh, ketika saya gagal mendapat beasiswa walaupun sudah berusaha keras dan berdoa dengan sungguh-sungguh saya sempat merasa kecewa pada Allah SWT karena saya sangat membutuhkan beasiswa tersebut untuk melanjutkan pendidikan saya. Namun, sekita itu pula saya merasa sangat malu kepada Allah SWT karena ternyatapada saat minggu yang sama orang tua saya mendapatkan kenaikan gaji hingga 150% dan adik saya mendapat beasiswa. Saat itu, saya berfikir bahwa Allah membalas ikhtiar dan doa saya lewat orang tua dan adik saya. Dan perlu diingat pula bahwa kegagalan akan menjadi GURU yang TERBAIK jika kita hadapi dengan sabar dan ikhlas.

Semoga artikel bermanfaat untuk kita semua….!!!